Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2011

Pengertian Editing

Kata editing dalam bahasa Indonesia adalah serapan dari Ingris. Editing berasal dari bahasa Latin editus yang artinya ‘menyajikan kembali’. Editing dalam bahasa Indonesia bersinonim dengan kata editing. Dalam bidang audio-visual, termasuk film, editing adalah usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan film menjadi lebih berguna dan enak ditonton. Tentunya editing film ini dapat dilakukan jika bahan dasarnya berupa shot (stock shot) dan unsur pendukung seperti voice, sound effect, dan musik sudah mencukupi. Selain itu, dalam

kegiatan editing seorang editor harus betul-betul mampu merekontruksi (menata ulang) potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera. Leo Nardi berpendapat editing film adalah merencanakan dan memilih serta menyusun kembali potongan gambar yang diambil oleh juru kamera untuk disiarkan kepada masyarakat. (Nardi, 1977: 47).


Pertunjukan film di bioskop ataupun televisi di rumah-rumah apabila belum melalui proses editing bisa dipastikan hasilnya tidak maksimal, penonton cenderung merasa bosan dan jenuh. Padahal, tayangan film ataupun video begitu ekonomis. Artinya, penayangannya sangat bergantung pada aspek waktu. Waktu begitu mahal dan menentukan dalam proses penayangan film. Jika sebuah tayangan berdurasi 60 menit, itu artinya selama waktu itu pencipta film harus menjamin tidak membuat penonton bosan apalagi meninggalkan bioskop, atau kalau di televisi memindahkan saluran. Begitu berartinya sebuah hasil editing sampai ada pengamat film yang menyatakan bahwa ruh tayangan film adalah proses editing.

Selain itu, J.M. Peters menyatakan bahwa yang dimaksud dengan editing film adalah mengkombinasikan atau memisah-misahkan rangkaian film sehingga tercapai sintesis atau analisis dari bahan yang diambil (Peters, 1980: 9). Di sini, Peters mengungkapkan, dengan editing, film sintesis atau sutradara televisi dapat menghidupkan cerita, menjernihkan suatu keterangan, menyatakan ide-ide atau menimbulkan rasa haru pada penonton. Nyata sekali Peters menekankan pada aspek ‘pemberian’ suasana dan nuansa sebuah film setelah melalui proses editing. Pada saat editing berlangsung, tentunya tugas editor tidak hanya menyambung-nyambung belaka. Karena selain unsur visualisasi, unsur pikturisasi (penceritaan lewat rangkaian gambar) juga penting. Unsur inilah yang membedakan kegiatan sambung menyambung dengan editing. Selain itu, keindahan sebuah film tidak melulu disampaikan lewat rangkaian gambar, tetapi juga tingkahan musik dan sound effect yang menjadikan sebuah film bernuansa. Di zaman film bisu, rangkaian gambar diupayakan semaksimal mungkin membangun cerita film, tetapi setelah era film bersuara, kolaborasi antara film dan musik begitu menyatu.

Sementara itu, D.W. Griffith berpendapat bahwa editing film merupakan suatu hal yang terpenting dalam film karena editing film itu merupakan suatu seni yang tinggi. Seni sendiri merupakan pondasi dari film. Menyunting film adalah menyusun gambar-gambar film untuk menimbulkan tekanan dramatik dari cerita film itu sendiri. Sutradara dan editor harus pandai dalam selection of shot, selection of action ( scene demi scene yang harus dirangkaikan) (Griffith, 1972: 20-25).

Dari penjelasan Griffith tersebut, terkandung pengertian bahwa di samping pentingnya penyusunan film, perlu adanya penyisipan-penyisipan potongan film untuk membuat film itu bercerita. Ini penting sekali diungkapkan dalam pembuatan film pada televisi karena televisi sangat singkat, tetapi bagaimana caranya supaya masyarakat tertarik untuk menyaksikan secara keseluruhan.

Adapun Pudovkin mengatakan perlu adanya constructive editing, yakni pelaksanaan editing film yang sudah dimulai dari penulisan dan membuat shot-shot sebagai materi editing film. Dalam hal editing ini, Pudovkin mempunyai sebuah prinsip, yaitu peristiwaperistiwa yang akan direkam dalam gambar tidak terlepas dari tiga faktor: watak manusia, ruang dan waktu. Di samping tidak terlepas dari ‘lirik editing’, yakni bagaimana caranya mengeksploitasi sesuatu yang tidak tampak seperti kegembiraan, kesenangan, kesedihan, dan lain-lain (Pudovkin, 1972: 26).

Namun pendapat dari kedua pakar film tersebut ditentang oleh Elsenstein, seorang arsitek yang lari ke dunia film. Dia mengecam Griffith dan Pudovkin dengan alas an keduanya hanya menyambung gambar dengan mengharapkan penonton ikut tertawa atau menangis. Menurut dia, dalam proses editing film harus dilakukan dengan cara menyambung dua buah shot atau adegan yang dapat menimbulkan pengertian baru melalui cara pemikiran dan selalu menimbulkan istilah pemikiran yang baru. Untuk itu, dia menghadapkan pada kiasan melalui lambang-lambang sehingga penonton turut berpikir secara intelektual terhadap adegan yang dilihatnya (1972: 33).

Terlepas dari beberapa pendapat tentang editing film tersebut, yang jelas proses editing memang menduduki posisi penting dalam menghasilkan karya film yang menarik dan tidak membosankan. Oleh karena itu, tugas seorang editor begitu berat dan mengandung resiko sebab bisa jadi stock shot yang sebetulnya sudah bagus malah tidak bisa ‘bercerita’ karena kegagalan sang editor.

http://film-maker81.blogspot.com/2008/09/kata-editing-dalam-bahasa-indonesia.html

"Membuat Skenario Film Indie"

Menulis skenario film independen tidak serumit film panjang. Pasalnya, selain durasinya yang pendek (sekitar 5-30 menit), juga tidak menganut struktur yang rumit seperti struktur tiga babak yang sudah lazim digunakan kalangan Hollywood. Jika dalam struktur ini selalu menampilkan tiga pembabakan : pengenalan tokoh-tokoh, munculnya konflik, dan penyelesaian masalah. Jadi, film independen tidak perlu mengikuti pola ini.

Menurut Gotot Prakosa, sineas IKJ yang juga juri internasional film pendek, setidaknya ada tiga gaya skenario film independen yang betul-betul sangat berbeda dengan film mainstream. Ketiganya adalah gaya surprise, circles, dan linier. Gaya surprise bisa anda coba dengan membuat sebuah skenario film independen. Misalnya, film yang mengetengahkan seseorang yang berlari kencang menuju hutan. Sesampai di hutan, dia lantas minum air di kendi yang sudah disediakan di hutan (film peserta Pasar Seni ITB 2000).

Gaya circles mempunyai makna berputar-putar. Bisa jadi tampilan scene per scenenya bolak-balik. Adapun gaya linier yang temanya sangat biasa dan datar, seolah-olah tidak ingin melibatkan psikis penontonnya dan membiarkan alur film mengalir lurus ibarat air mengalir di sungai.



Apa yang dikemukakan Gotot merupakan standar film pendek atau independen. Tidak rumitnya skenario film inidie ini terutama guna mendorong kalangan muda untuk berkreasi tanpa dibebani ‘kekeramatan’ sebuah skenario film. Pegiat film indie lebih universal sehingga mau tidak mau teknis penulisan skenario pun tidak harus ‘akademis’ atau berdasarkan aliran-aliran pembuatan film panjang. Dalam hal ini, para pegiat film independen diberi kesempatan seluas-luasnya menuangkan ide dan gagasan ke dalam bentuk film. Bisa jadi film yang dibuatnya tanpa konflik, tanpa ada ujung pangkal, dan tanpa penyelesaian. Bebas, sebebas-bebasnya.

Bagaimana dengan teknik penulisannya? Dalam hal ini, anda tidak perlu harus belajar dahulu secara lama. Yang penting langkah-langkahnya meliputi: penemuan ide cerita, kemudian disusunlah sinopsis (ringkasan) ceritanya. Dari sini, lantas buatlah breakdown master a t a u shooting script. Tidak sulit kan? Pokoknya setelah anda menemukan ide cerita, cepat-cepatlah disusun dalam bentuk cerita. Dari cerita yang sudah terbentuk inilah anda tinggal menjabarkan dalam bentuk uraian pengambilan gambar secara sederhana. Akan tetapi, tentu saja kaidah-kaidah filmis harus tetap ada, misalnya, soal teknis pengambilan gambar, penyutradaraan, dan juga editingnya. Kita bisa melihat gaya Gola Gong dalam membuat skenario-seperti di dalam bukunya—Menulis Skenario Itu (Lebih) Gampang. Namun yang ditunjukkan Gola Gong untuk konsumsi film panjang (industri) sehingga menulis skenario itu gampang, tetapi masih membelenggu jika anda membuat skenario film independen.

Jadi, jika anda ingin membuat film, segeralah buat. Skenario tidak perlu dipusingkan. Hal yang penting asal ada ide cerita maka lahirlah cerita. Jika sudah ada cerita, pasti akan jadi film. Itu pun tentunya kalau sudah melakukan kegiatan shooting dan editing sebab dua hal inilah yang menjadi jantungnya sebuah karya film. Nah, mengapa anda tidak mulai saja membuat film independen, gampang kan?.

Anda bisa mencobanya seperti berikut ini
Pertama, mencari ide cerita dari mana saja. Misalnya ide cerita tentang ‘joki’, yakni seseorang yang berusaha mengganti posisi orang lain dalam tes penerimaan mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi negeri. Ada seseorang yang tampaknya mampu menjadi joki dan meluluskan seseorang untuk bisa lolos masuk perguruan tinggi tersebut. Akan tetapi, ternyata sang joki ini mempunyai adik yang sama-sama ingin masuk ke PT tersebut dengan program studi yang sama juga. Akhirnya sang joki pikir-pikir panjang, mau menerima menjadi joki dengan imbalan besar atau mengundurkan diri karena kalau dia jadi joki, sama artinya dengan menjadi pesaing bagi adiknya yang ingin berkuliah.

Kedua, dari ide cerita ini selanjutnya anda harus membuat sinopsisnya, yaitu ringkasan cerita secara singkat dengan menampilkan inti dari cerita tadi.

Ketiga, anda selanjutnya menciptakan penokohan untuk cerita tersebut. Misalnya, Andi yang akan menjadi joki, orangnya mudah terpengaruh dan selalu bimbang. Kemudian Anto, yang menyuruh Andi menjadi joki, mempunyai tipikal culas, sombong, dan semuanya bisa diatur dengan uang. Selain penokohan, anda juga mencari lokasi shooting kelak dan propertinya (bisa meliputi pakaian, benda-benda yang digunakan tokoh, rumah dengan perlengkapan, dan lainnya).

Keempat, kemudian anda tinggal menentukan casting (pemeran) tokoh-tokoh tersebut. Karena umumnya film independen kurang bermodal, pilihlah orang-orang yang betul-betul mempunyai idealisme tinggi. Artinya tanpa dibayar ‘mahal’ pun tetap mau mendukung film anda. Kalau anda mahasiswa atau pelajar, teman-teman bisa diajak untuk casting. Menentukan casting ini juga jangan terlalu ketat, tetapi juga jangan terlalu longgar karena akan menyulitkan proses produksinya. Namun, tetap anda harus mempertimbangkan kemampuan acting calon pemerannya. Jadi, jangan mentang-mentang film independen, lantas seenaknya tanpa casting yang baik dan benar.

Kelima, setelah semuanya oke, anda tinggal memperjelas sinopsis tadi dalam bentuk skenario prematur. Dalam pembuatan skenario ini, anda tidak perlu menggunakan istilah teknis kamera. Jika anda akan menyutradarai film ini sendiri, anda sudah punya cukup gambaran bagaimana nantinya cerita ini terwujud dalam film. Sedikit rincian teknik pengambilan gambar, ukuran gambar ataupun sudut pengambilan, akan membantu kerja anda di lapangan. Namun jika skenario ini akan diserahkan kepada orang lain untuk menyutradarainya, anda tidak perlu detail membuat shooting script-nya, sebab sutradara biasanya mempunyai selera sendiri secara individual. Mungkin istilah teknisnya akan dia rancang sendiri. Yang penting ceritanya tidak menyimpang dari yang sudah anda tentukan, yakni tentang kebimbangan seorang joki.

Terakhir, anda melakukan preparation (persiapan) terhadap semua komponen pembuatan film, yakni dari skenario, pemeran, lokasi, peralatan shooting, dan lainnya yang mendukung proses produksi film tersebut. Jangan sampai terlupa soal perizinan jika ingin menggunakan suatu tempat tertentu.


sumber  http://film-maker81.blogspot.com/2008/09/membuat-skenario-film-indie.html?showComment=1313344336576#c8076833173855098722